Ada kejadian yang sangat seru di
saat jadwal jaga Psikiatri. Waktu itu saya jaga bersama dua kakak kelas saya,
mas Jef (wakil ketua) dan mas Zi. Waktu itu kaget saat jam 4 ada telpon dari
IRD (Instalasi Rawat darurat, atau dulu dikenal sebagai UGD), meminta tolong
Coass psikiatri untuk memeriksa pasien dengan gangguan jiwa yang ada disana.
Langsung saja kami meluncur kesana, waktu itu saya dengan Mas Zi saja yang
berangkat karena mas Jef masih ada urusan lain,dan akan menyusul kemudian.
Tidak lama kemudian kami datang ke IRD dan menemui “sumber masalah” kami.
Kami mendapati seorang wanita
sekitar 30 tahunan terbaring di kasur IRD, di tempat P3 (Pasien tidak gawat
tidak darurat), dengan luka kecil di dahinya. Kami datang dan menyapa beliau, “Selamat
sore, kami dokter di RSSA ini, namanya Ibu siapa?”. Pasien melihat kami dengan senyum-senyum
dan berkata “saya Eli (apabila ada kemiripan nama, itu bukan karena ada
kesengajaan dari penulis), hehehe kamu kok ganteng sih”. Whooootttssss??!! Saya
sudah yakin 100000% kalau dia cenderung ada gangguan jiwa hhehehe. “Ngapain bu
Eli kok dibawa ke sini?” “Lha mbuh,aku yo ora eruh,
sikisiweguaheklkanjdklaghjdeaga,ooohh magentos!!” Dafuq??! Apa sih yang dia
bicarakan? Wah wahh ini yang dalam ilmu psikiatri disebut neologisme, yaitu
memainkan kata-kata baru yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, ini nih
tanda-tanda curiga ke schizophrenia, tapi harus dibuktikan dengan beberapa
wawancara lagi agar bisa tegak diagnosanya, dan itu tidak saya bahas
disini.heheehe
Wawancara berlanjut, “Bu Eli tinggal
dimana?” “di Kota T, opo to takon2? Naksir aku yoooo???”. Edaaan2 kalau gak
Coass gini gak nemu deh orang yang seperti ini. “Bu Eli sudah menikah?” “Wes
cerai aku, males karo bojoku, takon teruus kamu, naksiir yoooo?”. Astaga bu
Eliiiii kami ini nanya bener-bener malah ditanggapi gini, memang lagi gangguan
nih jiwanya. “Bu Eli, kesini naik apa?” “weslelelshuekekekeemeleketee”. “Lho bu
Kenapa kok begitu?” “weheikqwlknnerejjhuisemelehaehee”. “Buu, Tolong jawabnya
yang bener yaa kami mohon, buat kebaikan Ibu juga”. Waahh saya sudah bingung
dan tidak sabaran nih menghadapi beliau ini. “welehklekehklsemelehe opo takon2
terus??”. SAya sudah tidak sabaran dan membalas kata-kata Bu Eli,”wehjkejejejwesemelehe
bu!!” “ooohh wong edan!” Balas Bu Eli.. AAAPPPAAA!!!?? Ini tadi dia gitu
sendiri gak sadar apa? Wooiii yang Edan siapa??!! Edan teriak edan! SAbarr diit
sabaarrr Dalam hati saya bekata begitu, apa jadinya kalau saya beneran teriak
seperti itu didepan pasien..tambah runyam lagi masalahnya hehehee…orang seperti
itu memang kesadarannya sudah berubah dan tidak bisa berinteraksi sosial dengan
baik jadi itulah sebebnya dia harus segera mendapatkan pengobatan jiwa yang
terbaik.
Itulah secuplik wawancara singkat
kami dengan bu Eli yang sebenarnya masih sangat banyak lagi apabila ditulis
disini, namun pesan moral yang bisa diambil disini adalah kita harus selalu
sabar menghadapi berbagai macam karakter manusia. Orang-orang yang menglami
gangguan jiwa bukan karena mereka ingin mendapat gangguan itu, jadi kita harus
memperlakukan mereka sebagaimana manusia diperlakukan dengan baik.
0 komentar:
Post a Comment
jangan sungkan-sungkan komentar disini ya, kita sama-sama belajar dan menimba ilmu serta pengalaman